Total Tayangan Halaman

10 Oktober 2011

NGOMONG TEATER

1. Preambule

Berbicara tentang teater, pasti sebagian besar orang hanya akan berfikir mengenai sekelompok orang yang “gila” dalam menapaki dunia ini dengan wajar. Betapa tidak, segala eksperimen yang dilakukan oleh para pegiat teater seringkali jauh dari kewajaran manusia normal dalam beraktifitas. Hal ini karena mereka dituntut untuk memerankan sosok tokoh yang terkadang dia sendiri sama sekali tidak tahu menahu apa dan bagaimana sosok sesungguhnya dari tokoh yang akan ia perankan. Sehingga kemudian mereka bereksperimen setelah terlebih dahulu menganalisa dan melakukan survey lapangan, lalu bereksplorasi dalam proses panjang penciptaan, untuk kemudian mewujudkannya dalam pemeranan sebagaimana permintaan naskah.

Namun, yang patut dicatat adalah, sejak ribuan tahun Sebelum Masehi hingga zaman Yunani, teater selalu hadirdengan persyaratan yang serupa dan nyaris tak terjadi perubahan berarti. Semua peristiwa teater itu digulirkan

Secara bersama,

Pada suatu saat,

Di sebuah tempat.

Itulah inti dari teater.

Kini, teater tidak lagi hanya berfungsi sebagai upacara ritual (keagamaan). Teater hadir pula sebagai kesenian atau hiburan, dengan apapun jenis serta bentuk teaternya.

Secara sederhana perlu juga disadarkan, bahwa teater adalah kegiatan yang menggembirakan, sekaligus ajang pelatihan diri dan pengasahan dalam memaknai perilaku/tindakan, seperti:

1. Disiplin

2. Jujur

3. Kemampuan bekerja sama

4. Rasa percaya diri yang bertanggung jawab, dan

5. Pembentukan kepribadian tanpa pemaksaan.

Karena pada dasarnya teater sangat membutuhkan ketulusan dan kegembiraan, dan sesungguhnya itulah inti dari kehidupan.

2. Sejarah Teater

Sebelum ada bentuk yang dinamakan teater, suku-suku yang kebudayaannya maju ingin berhubungan dengan dewa. Kemudian mereka membuat semacam upacara yang dipimpin seorang dukunritual tersebutlah awal mula teater, meskipun dulu belum ada naskah, kata-kata atau mantra/doa-doa atau monolog/dialognya dikarang oleh para dukun itu.

Teater berawal dari kata teatron (bahasa Yunani/Greek) yang berarti sebuah tempat pertunjukan. Teater juga diartikan sebagai semua jenis dan bentuk ntontonan baik di panggung maupun di arena terbuka, berikut mencakup pekerja sekaligus kegiatannya.

Teater barat berasal dari Yunani, sedangkan teater timur berkembang di Cina (Opera Cina), Jepang (Kabuki, Noh, Bunraku), India, Bali (bersumber dari Epos Ramayana dan Mahabharata), Jawa (Wayang).

Perbedaan Teater, Drama, Sandiwara, dan Tonil

Teater;

1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.

2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak

3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

Drama; berasal dari bahasa Yunani Draomai artinya ‘bertindak/berlaku/berbuat/beraksi’, juga bisa berarti naskah lakon.

Sandiwara; berasal dari bahasa Jawa Sandi berarti rahasia dan Wara berarti pembeberan/pewartaan/pemberitaan. Jadi Sandiwara dapat berarti rahasia yang dibeberkan kepada khalayak. Sandiwara dikenalkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegara VII.

Tonil atau Toneel; berasal dari bahasa Belanda yang berarti pemberitaan kepada khalayak dengan tata cara yang telah ada.

Bentuk (sastra) drama

a. Tragedi; kisah berakhir duka.

b. Komedi; kisah penuh tawa/gembira dan berakhir penuh suka cita.

c. Tragikomedi; gabungan tragedi dan komedi.

d. Melodrama; kisah yang menguras aur mata.

e. Farce; gerak yang disajikan berlebihan dan tidak wajar.

f. Parodi; fakta dan kenyataannya diputarbalikkan dengan maksud untuk bahan tertawaan.

g. Satir; berasal dari kata satiricon (Yunani) yaitu cemoohan/ejekan tentang tokoh atau keadaan yang dibawakan dengan penuh kegetiran.

h. Musikal; seluruhnya diiringi musik dan dinyanyikan termasuk dialognya, namun menggunakan narator untuk mengantar jalan cerita.

i. Opera; semua lakonnya dinyanyikan oleh para pemain dan diiringi orchestra.

Aliran (sastra) drama

a. Klasik; Konvensi (aturan) penulisan diikuti dengan sangat ketat.

b. Neoklasik; hukum sebab-akibat, kebenaran dan kekuasaan Tuhan adalah Mutlak. (religi)

c. Romantisme; manusia bisa menentukan sendiri nasib dan takdirnya.

d. Realisme; penyajian sehari-hari yang sering terlewatkan.

e. Simbolisme; kenyataan yang maya ditafsir kembali. (rahasia hidup)

f. Ekspresionisme; penafsiran kembali dari ‘realisme’ ke yang lebih detil.

g. Epik; sebuah upaya untuk menemukan kekuatan teateralnya.

h. Absurd; tidak ada kebenaran mutlak.

Tiga Bentuk Gedung Teater

a. Prosenium (tertutup)

b. Arena (bisa tertutup bisa terbuka)

c. Thrust

3. Penulisan Naskah

“JIKA INGIN MENULIS, SEGERALAH MENULIS”

Ya, kalimat yang pantas untuk membangkitkan selera menulis khusunya bagi para pemula hingga bahkan para kambuhan. Karena, apa yang ada di pikiran dan benak kita di kala itu, seringkali tidak terulang kembali di persekian waktu yang lain.

Jika tema dan premis sudah ditemukan, tulislah sebuah sinopsis atau ringkasan lakon yang berfungsi sebagai pemandu dalam penulisan naskah lakon, dengan bagan atau kerangka yang biasanya terdiri dari:

a) Pembuka/pengantar/prolog (sebab)

b) Isi (pemaparan-konflik-klimaks/komplikasi-anti klimaks)

c) Penutup/penyelesaian/epilog (resolusi/keputusan/akibat)

Tiga hal tersebut sama halnya sejalan dengan Aristoteles yang membakukan teknik/struktur atau kerangka lakon agar naskah bisa dimengerti dan tidak membosankan. Yaitu pembukaan, perkembangan masalah, dan penutup.

Ada pula yang membagi naskah lakon sebagai berikut:

a) Eksposisi; pengenalan masalah dan tokoh lakon

b) Konflik; masalah berkembang dan menjadi konflik

c) Komplikasi; masalah semakin berkembang dan terjadi perbenturan

d) Krisis; mulai dicoba jalan keluar

e) Resolusi; persoalan diselesaikan

f) Solusi/kesimpulan; konflik persoalan berakhir dan kisah selesai.

Namun bagaimanapun metode dan model yang dianut, di dalam naskah sebaiknya ada:

a) Ringkas cerita, atau biasa disebut sinopsis

b) Nama-nama peranan

c) Pembuka

d) Babak-babak => terdiri dari rangkaian peristiwa yang merangkum beberapa bagian kehidupandari tokoh-tokoh.

e) Adegan-adegan => peristiwa kecil yang mendorong perkembangan watak dari para tokoh yang ada di dalam sandiwara

f) Penutup

Abad 18 s/d Abad 20 disebut era teater yang memiliki naskah tertulis. Alasannya karena naskah harus:

a) Dihafal

b) Dimainkan

c) Dijadikan bahan untuk ujung penciptaan dari peristiwa teater yang dipentaskan di atas panggung, dan

d) Dijadikan patokan bekerja oleh semua unsur yang terlibat di dalam pementasan teater.

4. Seni Peran

Seringkali seseorang yang memersankan tokoh pada bsebuah pementasan teater mendapat kritikan karena permainannya dinilai jelek. Oleh sebab itu, langkah-langkah dasar bagi seorang aktor adalah:

TIGA LANGKAH MENUJU SIAP RAGA

EMPAT LANGKAH MENUJU PENCIPTAAN

EMPAT LANGKAH MENUJU TAHU DAN MENGERTI

ENAM LANGKAH MENUJU SIAP SUKMA

Bagi seorang aktor disamping melaksanakan langkah-langkah diatas, perlu juga memperhatikan ‘blocking’ dan ‘posisi tubuh’ aktor.

Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

Ø Seimbang

Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

Ø Utuh

Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.

Ø Bervariasi

Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.

Ø Memiliki titik pusat

Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.

Ø Wajar

Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Yang terpenting dilakukan seorang aktor, adalah:

a. Konsentrasi; pemusatan pikiran hanya kepada apa yang akan dilakukan di atas panggung. Disamping salah satu cara untuk menghilangkan grogi.

b. Imajinasi; suatu cara bagi seorang aktor untuk mendekati pikiran dan perasaan karakter yang akan dimainkan sehingga dia dapat menempatkan dirinya dalam situasi si karakter.

c. Kerja sama; terutama dengan lawan main dan alat-alat panggung. Sebab teater adalah kerja tim.

AKTING YANG BAIK: Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang :

a. terdengar (volume baik)

b. jelas (artikulasi baik)

c. dimengerti (lafal benar)

d. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Gerak yang baik ialah gerak yang :

a. terlihat (blocking baik)

b. jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)

c. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)

d. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Penjelasan :

a. Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh

b. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.

c. Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber‑ani.

d. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah

e. Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :

1. Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.

2. Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.

Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:

1. Bagian kanan lebih berat daripada kiri

2. Bagian depan lebih berat daripada belakang

3. Yang lebar lebih berat daripada yang sempit

4. Yang terang lebih berat daripada yang gelap

5. Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung

1. Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting

2. Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.

3. Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Penjelasan posisi tubuh

Jika kamu menghadap ke depan (penonton), maka itu disebut ‘penuh ke depan/full front’. Berputar ke kiri 45o, disebut ‘3/4 terbuka kiri’. Berputar lagi ke kiri 45o, disebut ‘profil kiri’. Jika berputar lagi ke belakang kiri 45o, disebut ‘1/4 terbuka kiri’. Jika menghadap ke belakang, disebut ‘penuh ke belakang/full back’. Bila diputar lagi ke kiri 45o, disebut ‘1/4 terbuka kanan’. Berputar lagi ke kiri 45o hingga menyamping, disebut ‘profil kanan’. Apabila diputar lagi 45o arah ke depan, disebut ‘3/4 terbuka kanan’. Sampai akhirnya kembali ke posisi full front lagi.